Kesehatan

Aristolochia Clematitis Berpotensi Menyebabkan Kanker

Aristolochia Clematitis Berpotensi Menyebabkan Kanker

Mencegah memang lebih baik ketimbang mengobati. Atas dasar alasan itulah kebanyakan orang mengkonsumsi suplemen herbal. Fenomena ini makin menguat seiring dengan pendapat bahwa suplemen herbal tidaklah sama dengan obat. Namun, hanya sedikit yang menyadari bahwa tidak semua suplemen herbal baik untuk kesehatan. Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa ada satu komponen yang membuat mengkonsumsi suplemen herbal tertentu tak ubahnya seperti merokok: sama-sama bisa menimbulkan kanker.

Senyawa kimia tersebut adalah asam aristolochic, dan biasa ditemukan di tanaman yang rimbun, berbunga dan tumbuh merambat yang bernama Aristolochia clematitis. Selama berabad-abad, hingga detik ini juga, tanaman ini digunakan dalam obat-obatan tradisional Cina (konon, dulunya juga digunakan pada masa Yunani Kuno) karena dipercaya memiliki khasiat melawan arthritis dan mempermudah persalinan. Dewasa ini, asam tersebut dapat dengan mudah ditemukan dalam suplemen penurun berat badan, pelancar haid, dan obat rematik.

Dari semua kawasan dunia, Asia menjadi pasar tertinggi asam aristolochic. Bahan ini kadang dimasukkan dalam tonikum, obat tetes atau pil. Bahkan, suatu studi menyebutkan bahwa antara 1997 hingga 2003 hampir sepertiga populasi Taiwan diberi resep yang mengandung asam aristolochic. Siapa yang memberi resep? Tentu para tabib Cina. Mereka tak bisa disalahkan karena mayoritas orang keturunan Cina percaya akan khasiat ramuan tradisional. Saking tingginya kepercayaan itu, para apoteker kadang ‘terpaksa’ menyertakan ramuan tradisional saat memberi obat modern.

Konsumsi asam aristolochic mulanya biasa saja. Kegemparan atas dampak buruk senyawa kimia itu baru terjadi di tahun 1993 ketika lusinan wanita Belgia terdiagnosis mengalami gagal ginjal setelah tanpa sengaja mengkonsumsinya via pil penurun berat badan. Pada waktu yang hampir bersamaan, para peneliti mensinyalir hubungan antara kerusakan ginjal dengan gandum yang terkontaminasi Aristolochia clematitis ketika biji kedua tanaman itu bercampur selama panen di kawasan Sungai Danube. Kecurigaan mulai berbuah aksi. Di tahun 2001 FDA menyarankan publik AS untuk tidak mengkonsumsi menu dan produk yang mengandung asam aristolochic. Dua tahun berikutnya Taiwan melarang penggunaan bahan tersebut. Sementara itu, International Agency for Research on Cancer (IARC) memasukkan senyawa kimia yang dihasilkan oleh Aristolochia clematitis ke dalam karsinogen Grup 1. Artinya, sudah banyak bukti bahwa tanaman itu menyebabkan kanker pada manusia.

Meski begitu, tak beda dengan rokok, suplemen yang mengandung asam aristolochia masih tetap digandrungi dan digunakan oleh tabib Cina. Bahkan, menurut Bin Tean Teh, pakar kanker dari National Cancer Centre Singapore dan National University of Singapore (NUS), “Suplemen tersebut diperjualbelikan via Internet!”

Studi lebih lanjut menunjukkan bahwa asam aristolochia tidak hanya menyebabkan gagal ginjal, tapi juga kanker saluran kencing. Sayangnya, kebanyakan studi hanya menyinggung mutasi gen P53; satu gen yang sering dikaitkan dengan kanker. Teh termasuk peneliti yang tidak puas atas hasil penelitian semacam itu. Ia menyitir fakta bahwa Taiwan merupakan pasar tertinggi asam aristochia, sekaligus negara dengan jumlah penderita kanker saluran kencing terbanyak di dunia.

Ingin mendapat gambaran lebih luas, Teh dan koleganya menguji jaringan tubuh 9 pasien kanker saluran kencing asal Taiwan yang biasa mengkonsumsi ramuan yang mengandung asam aristolochia. Prinsip pengujian mereka sederhana: bahan karsinogen, seperti asap rokok, akan meninggalkan jejak genetik dalam bentuk susunan abjad penyusun DNA yang abnormal. Saking abnormalnya, susunan DNA tersebut dianggap ‘salah tulis’. Singkat kata, kesalahan tulis itu adalah pertanda mutasi genetik.

Nah, karena sel penyebab kanker saluran kencing tersebut juga ditemukan di ginjal, Teh dan kawan-kawan menggunakan metode pengurut gen terbaru guna menguji jaringan ginjal yang rusak. Lalu, apa yang ditemukan Teh?

Ternyata, 1.500 gen telah mengalami mutasi. Nilai ini jauh lebih tinggi ketimbang yang ditemukan pada kanker paru-paru perokok atau kanker kulit mereka yang sering terpapar radiasi UV. “Orang sering berpikir kalau Aristolochia clematitis hanya merusak satu gen. Padahal, sebenarnya adalah ribuan gen,” tandas Teh.

Steven Rozen, pakar genetika kanker di Duke-NUS Graduate Medical School di Singapore dan Duke University Medical Center di Durham, North Carolina, mengatakan bahwa penelitian Teh secara tegas menunjukkan kalau tanaman Aristolochia clematitis sangat berbahaya. Di tempat yang berbeda, sejumlah peneliti Taiwan dan AS sampai pada kesimpulan yang sama. Setelah mengurutkan susunan gen jaringan tubuh 19 pasien kanker saluran kencing di Taiwan, mereka mendapati kalau pasien penderita kanker saluran kencing yang tidak mengkonsumsi Aristolochia clematitis tidak memperlihatkan pola dan urutan mutasi yang sama dengan mereka yang biasa mengkonsumsi. Ngeri, bukan?

Categories:
Kesehatan
You Might Also Like